griftec.org – Bayangkan Anda hendak membangun rumah di sebuah lahan yang miring alias berbukit. Di era modern ini, apa langkah pertama yang terlintas di benak arsitek atau kontraktor? Hampir pasti: datangkan ekskavator, keruk tanahnya, ratakan bukitnya, lalu cor beton agar fondasi menjadi datar sempurna. Kita terbiasa “memaksa” alam agar tunduk pada keinginan kita.
Namun, cobalah tengok ke pedalaman Banten, tepatnya di wilayah masyarakat adat Baduy (Kanekes). Di sana, pendekatan semacam itu dianggap tabu, bahkan melanggar hukum adat. Bagi mereka, manusia adalah tamu di bumi, bukan penakluk. Jika tanahnya miring, maka tiang rumahnyalah yang harus disesuaikan tingginya, bukan tanahnya yang diratakan.
Prinsip hidup yang terdengar sederhana namun radikal ini terangkum dalam pepatah kuno: Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung. Secara harfiah berarti “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”. Namun, di balik kalimat singkat ini, tersimpan filosofi “Lojor Teu Meunang Dipotong”: menjaga alam apa adanya yang menjadi kunci mengapa alam di sana tetap lestari sementara kota-kota besar di sekitarnya langganan banjir dan longsor.
Makna Harfiah vs Makna Batin
Kalimat lengkap dari pepatah ini sebenarnya adalah “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”. Jika diterjemahkan secara kaku, ini terdengar seperti aturan tukang kayu yang sangat ketat: jangan memotong kayu yang kepanjangan, dan jangan menyambung kayu yang kependekan.
Namun, dalam tatanan sosial dan spiritual Sunda Wiwitan, makna batinnya jauh lebih dalam. Ini adalah ajaran tentang kejujuran mutlak dan penerimaan takdir. Dalam konteks hukum, ini berarti aturan tidak boleh dikurangi atau ditambah-tambah sesuai kepentingan pribadi. Dalam konteks kehidupan, ini berarti menerima apa yang telah diberikan Tuhan tanpa memanipulasinya secara berlebihan. Tidak ada “kosmetik” atau pencitraan; semua tampil apa adanya.
Arsitektur yang “Tahu Diri”
Penerapan paling visual dari filosofi “Lojor Teu Meunang Dipotong”: menjaga alam apa adanya terlihat jelas pada tata ruang dan arsitektur rumah adat Baduy, yang disebut Sulah Nyanda.
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa rumah-rumah di Baduy tidak pernah dibangun langsung menyentuh tanah? Mereka menggunakan konsep rumah panggung. Batu kali digunakan sebagai umpak (alas tiang) tanpa menggali atau merusak kontur tanah asli. Jika kontur tanahnya menurun, tiang penyangga di bagian bawah akan dibuat lebih panjang. Mereka menyesuaikan bangunan dengan alam, bukan sebaliknya. Ini adalah bentuk kerendahan hati arsitektural yang jarang kita temui di kota metropolitan yang penuh ego beton.
Sungai dan Hutan: Zona Tanpa Intervensi
Di wilayah Baduy Dalam, filosofi ini berlaku sangat ketat terhadap pengelolaan air dan hutan. Mengubah aliran sungai untuk kepentingan irigasi praktis dilarang. Mereka membiarkan air mengalir sesuai jalurnya yang alami.
Begitu pula dengan hutan. Tidak ada konsep “hutan produksi” yang bisa ditebang habis lalu ditanam ulang seenaknya. Pohon yang sudah “lojor” (tumbuh tinggi/panjang) memiliki hak hidupnya sendiri. Memotongnya tanpa alasan ritual yang sangat mendesak dianggap sebagai pelanggaran keseimbangan. Hasilnya? Mata air di sana tidak pernah kering, dan longsor sangat jarang terjadi meskipun topografinya curam. Alam membalas rasa hormat itu dengan perlindungan.
Kejujuran sebagai Pondasi Sosial
Menariknya, filosofi ini juga merembet ke karakter manusianya. Dalam interaksi sosial, prinsip “tidak memotong yang panjang dan tidak menyambung yang pendek” diterjemahkan menjadi sikap anti-hoaks dan anti-korupsi yang alami.
Orang yang memegang teguh prinsip ini tidak akan melebih-lebihkan cerita (menyambung yang pendek) atau menyembunyikan fakta (memotong yang panjang). Apa yang terjadi, itulah yang disampaikan. Dalam dunia modern yang penuh dengan manipulasi data dan framing media, sikap polos dan lurus dari filosofi ini terasa seperti oase yang menyegarkan. Integritas bukan sesuatu yang perlu diajarkan lewat seminar, tapi sudah mendarah daging dalam cara hidup sehari-hari.
Melawan Arus Modernisasi yang Seragam
Dunia modern terobsesi dengan standardisasi. Tomat di supermarket harus sama ukurannya, jalanan harus lurus dan lebar, dan rumah harus seragam bentuknya. Filosofi “Lojor Teu Meunang Dipotong” adalah antitesis dari itu semua.
Filosofi ini merayakan keunikan dan ketidaksempurnaan. Jika sebuah pohon tumbuh bengkok, biarkan ia bengkok, jangan dipaksa lurus. Jika seseorang memiliki bakat terbatas (pendek), jangan dipaksa atau disambung-sambung dengan ekspektasi palsu agar terlihat hebat. Ada ketenangan batin saat kita berhenti berusaha mengubah segala sesuatu agar sesuai dengan “standar” orang lain.
Relevansi di Era Krisis Iklim
Mungkin Anda berpikir, “Itu kan di desa, tidak mungkin diterapkan di Jakarta atau Surabaya.” Well, coba pikirkan lagi. Banjir yang kerap melanda kota besar sering kali terjadi karena kita melanggar prinsip ini: kita memotong daerah resapan air untuk dijadikan mal, dan kita menyambung (membeton) bantaran sungai hingga air tidak punya tempat meresap.
Mengadopsi filosofi “Lojor Teu Meunang Dipotong”: menjaga alam apa adanya bukan berarti kita semua harus tinggal di rumah bambu tanpa listrik. Tapi, ini soal mindset. Bagaimana jika dalam pembangunan kota, kita lebih banyak memberi ruang pada kontur asli tanah? Bagaimana jika kita berhenti menimbun rawa hanya demi perumahan mewah? Kearifan lokal ini menawarkan solusi mitigasi bencana yang paling murah dan efektif: kepatuhan pada hukum alam.
Gaya Hidup Minimalis yang Sejati
Pada akhirnya, filosofi ini mengajarkan kesederhanaan atau minimalisme yang radikal. Tidak perlu menambah apa yang tidak perlu (konsumerisme), dan tidak perlu mengurangi hak alam demi kenyamanan sesaat. Hidup cukup dengan apa yang tersedia.
Ketika kita berhenti “memotong” dan “menyambung” keinginan kita yang tak terbatas, kita akan menemukan bahwa apa yang disediakan alam sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Kesimpulan
Di tengah gempuran teknologi dan ambisi manusia untuk merekayasa bumi, filosofi “Lojor Teu Meunang Dipotong”: menjaga alam apa adanya hadir sebagai “rem” yang pakem. Ia mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang tidak boleh diubah demi ego semata. Bahwa menjadi maju tidak selalu berarti menaklukkan alam, melainkan bisa hidup berdampingan dengannya dalam harmoni yang sunyi.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, melihat sekeliling, dan bertanya: bagian mana dari hidup dan lingkungan kita yang sudah terlalu banyak “dipotong” dan “disambung”? Terkadang, membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai kodratnya adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.
