Rambu Solo Toraja

Rambu Solo Toraja: Upacara Pemakaman Termahal di Dunia?

griftec.org – Pernahkah Anda membayangkan sebuah pesta perpisahan di mana air mata duka bercampur dengan sorak-sorai ribuan tamu, dan biaya yang dikeluarkan bisa setara dengan harga beberapa mobil sport mewah? Di dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kematian tidak dipandang sebagai akhir yang mendadak dan sunyi. Sebaliknya, ia adalah awal dari sebuah perayaan akbar yang mungkin merupakan salah satu “festival” kematian paling kolosal di muka bumi.

Selamat datang di Rambu Solo Toraja, sebuah upacara pemakaman yang menolak konsep kesederhanaan. Bagi masyarakat Toraja, mengantarkan arwah orang tua atau kerabat menuju Puya (alam baka) adalah kewajiban suci yang harus dilakukan dengan “sempurna”. Sempurna di sini berarti meriah, panjang, dan tentu saja, mahal.

Tapi, jangan buru-buru menghakimi tradisi ini sebagai pemborosan semata. When you think about it, Rambu Solo adalah bukti nyata betapa kuatnya ikatan keluarga dan penghormatan terhadap leluhur dalam budaya Nusantara. Di balik kemewahan dan ribuan kerbau yang dikorbankan, tersimpan filosofi mendalam tentang siklus hidup yang layak kita telusuri. Siap menyelami tradisi yang bikin geleng-geleng kepala ini?

“Tomakula”: Orang Mati yang Dianggap Sakit

Salah satu konsep paling mind-blowing dari tradisi ini adalah status jenazah sebelum upacara Rambu Solo Toraja digelar. Jika seseorang meninggal hari ini, mereka tidak langsung dikuburkan. Keluarga yang ditinggalkan akan memperlakukan jenazah tersebut sebagai To Makula’ atau “orang yang sakit”.

Bayangkan Anda bertamu ke rumah kerabat di Toraja, dan di salah satu kamar masih terbaring jenazah nenek mereka. Jenazah ini tetap diberi makan, diajak bicara, bahkan diberi rokok setiap harinya. Proses ini bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sampai keluarga berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk menggelar pesta. Ini bukan cerita horor, melainkan wujud kasih sayang. Bagi mereka, selama Rambu Solo belum dilaksanakan, sang arwah belum benar-benar pergi; ia masih ada di sini, “sedang sakit” dan butuh ditemani.

Tedong: Mata Uang Raksasa Berkaki Empat

Jika dolar atau emas adalah standar kekayaan dunia, maka di Toraja, standar itu bernama Tedong (kerbau). Dalam upacara Rambu Solo, kerbau bukan sekadar hewan kurban. Ia adalah kendaraan suci yang akan mengantar arwah menuju nirwana. Semakin banyak kerbau yang dikurbankan, semakin cepat arwah sampai ke Puya.

Namun, ini bukan sembarang kerbau. Kasta tertinggi dipegang oleh Tedong Saleko (kerbau belang/bule) yang harganya bisa menembus angka Rp1 miliar per ekor! Ya, Anda tidak salah baca. Harga satu ekor kerbau di sini bisa membeli sebuah rumah mewah di pinggiran Jakarta.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa untuk upacara bangsawan tingkat tinggi, jumlah kerbau yang disembelih bisa mencapai 24 hingga 100 ekor. Belum lagi ratusan babi. Inilah alasan mengapa Rambu Solo sering disebut sebagai upacara pemakaman termahal di dunia. Ini adalah tentang gengsi, strata sosial, dan bakti anak kepada orang tua.

Ma’pasonglo: Arak-arakan Merah Membelah Desa

Puncak dari rangkaian acara ini adalah prosesi Ma’pasonglo, yaitu mengarak jenazah keliling desa menuju lokasi upacara atau rante. Ribuan pelayat biasanya akan memadati jalanan, mengenakan pakaian adat dominan hitam atau merah, menciptakan lautan manusia yang dramatis.

Peti jenazah yang disebut duba-duba, dihiasi ukiran emas dan kain merah, diusung beramai-ramai sambil diguncang-guncang. Tujuannya? Untuk membangunkan semangat dan kegembiraan. Tidak ada suasana hening mencekam di sini. Musik bambu, nyanyian duka Ma’badong, dan teriakan semangat para pengusung peti menciptakan atmosfer magis yang membuat bulu kuduk merinding. Sebagai wisatawan, ini adalah momen terbaik untuk melihat gotong royong masyarakat Toraja yang luar biasa solid.

Adu Kerbau: Hiburan di Tengah Duka

Sebelum kerbau-kerbau mahal itu disembelih, mereka akan diadu terlebih dahulu dalam tradisi Ma’pasilaga Tedong. Ini adalah tontonan rakyat yang paling ditunggu-tunggu. Sorak sorai penonton membahana saat dua kerbau raksasa saling beradu tanduk di tengah lumpur sawah.

Uniknya, tradisi ini juga menjadi ajang “judi” kecil-kecilan (secara adat) dan pertaruhan harga diri pemilik kerbau. Kerbau yang menang akan melambungkan nama pemiliknya. Namun, di balik keseruan itu, ada filosofi bahwa darah yang tumpah ke tanah akan menyucikan bumi dan memberi kesuburan. Tapi ingat, bagi Anda yang menonton langsung, jagalah jarak aman. Kerbau yang mengamuk tidak mengenal mana turis dan mana penduduk lokal.

Kuburan Batu yang Menggantung di Tebing

Setelah rangkaian pesta usai, jenazah tidak dikubur di dalam tanah. Rambu Solo Toraja diakhiri dengan menempatkan peti jenazah di dinding tebing batu, gua alam, atau Patane (kuburan berbentuk rumah).

Anda mungkin pernah melihat foto tebing Londa atau Lemo yang dipenuhi peti mati dan patung kayu seukuran manusia yang disebut Tau-tau. Patung ini adalah replika almarhum yang dibuat semirip mungkin. Konon, posisi makam di tebing menandakan status sosial; semakin tinggi letaknya, semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Dan tentu saja, semakin sulit bagi pencuri makam (ya, ini pernah jadi masalah serius di masa lalu) untuk menjarah harta benda yang ikut dikuburkan bersama jenazah.

Refleksi Ekonomi: Beban atau Kebanggaan?

Sering muncul pertanyaan kritis: apakah tradisi semewah ini tidak membebani ekonomi keluarga? Jawabannya kompleks. Di satu sisi, banyak keluarga Toraja yang merantau ke seluruh dunia dan bekerja keras bertahun-tahun hanya demi menabung untuk Rambu Solo orang tua mereka. Ini adalah “utang adat” yang harus dibayar.

Namun, di sisi lain, perputaran uang saat upacara ini luar biasa besar. Pedagang pasar, penyewa tenda, peternak kerbau, hingga pemerintah daerah (lewat pajak potong hewan) mendapatkan cipratan rezeki. Jadi, Rambu Solo bukan hanya ritual pembakaran uang, tapi juga redistribusi ekonomi yang menjaga roda kehidupan di Tana Toraja tetap berputar.

Kesimpulan

Menyaksikan Rambu Solo Toraja secara langsung adalah pengalaman yang mengubah cara pandang kita tentang kematian. Di sini, kematian dirayakan dengan gegap gempita, bukan ditangisi dalam sunyi. Ia mengajarkan kita bahwa menghormati orang tua tidak berhenti saat napas mereka terhenti.

Jadi, jika Anda mengaku pecinta budaya, jangan hanya puas melihatnya dari layar ponsel. Nabunglah, pesan tiket ke Makassar, lalu lanjutkan perjalanan darat 8 jam ke Tana Toraja. Saksikan sendiri bagaimana masyarakat di sana mengubah duka menjadi pesta budaya yang memukau dunia. Berani melihat kerbau seharga Lamborghini dipotong di depan mata?